Putih itu Merah itu bukan Putih

Kuiris sedikit permukaan kulit lengan yg selalu menempel di bahu kiriku. Katanya terbuat dari tanah. Tapi yg kulihat hanya darah. Merah. Merah itu menetes jatuh ke pangkuan kain putih yang kukenakan malam ini. Dia bilang ingin bertemu denganku tapi tidak, dia lagi-lagi ingkar. “Tiba-tiba ada acara”, dia bilang. Bohong! Temaram lilin dan dentingan sendok garpu sedang mengiring sekulum senyum wanita yg duduk di hadapannya. Pengkhianat bajingan!!! Lelaki biadab!!! Arghhhhhhhhhhhh!!! Seketika, Hening. Semua berhenti menetes. Semua berhenti berdetak. Aku tidak lagi dapat melihat putih. Putih telah menjadi merah. Begitupun aku. Kosong. Mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s