Angin dan Memori

Suatu hari aku duduk di teras belakang rumah. Ketika senja masih lama. Ketika usia langit adalah warna biru cerah dengan kapas-kapas putih bergelantungan. Sayup-sayup ku dengar bisikannya dalam kepalaku.

“Oh, hai angin”

Dibelainya pipiku dengan halus. Ku pejamkan mata hingga hampir terlelap. Perlahan ku dengar angin berbisik perlahan, “Tunggu dan mungkin nanti kau akan tahu”

Ku turuti. Bersamanya aku mengalir kemana ia berhembus. Ku tunggu. Tunggu. Tunggu. dan Tunggu.

Satu tahun. Dua tahun. Tiga tahun.

Tak ada kata ataupun kalimat yang membuat ku kembali berpijak ke bumi. Angin terus membawaku kemana ia pergi. Tiada hentinya ia membuaiku dengan kisah-kisah lama yang membuat hidungku kembali mencium wangi rambutnya di pagi hari. Terkadang lidahku tak sadar mengecap coklat manis darinya.

“Angin, aku butuh jawaban. Haruskah aku menunggu? Terus berkelana bersamamu?”

Angin diam. Angin tidak menjawab. Angin pergi?

Hampir tidak ada lagi semilir udara di sini. Sesak dan hampa. Sulit untuk bernafas.

“Oh tidak! Angin, kumohon jangan pergi. Meski menyakitkan tapi sungguh aku ingin terus dibuai olehmu. Kamulah sumber inspirasiku. Tanpamu, aku ini hanya hampa”

Mungkin angin sedang pergi sebentar, pikirku. Baiklah. Aku akan menunggu lagi. Mungkin angin akan pulang.

Satu tahun. Dua Tahun. Tiga Tahun.

Genap sudah enam tahun aku menunggu angin datang. Menunggunya membawaku pulang ke bumi. Menunggunya kembali untuk menyadarkanku bahwa kisah-kisah itu sudah telampau lama dan berkarat. Berkarat sehingga waktu tidak lagi dapat menunjukkan tahun, bulan, hari, dan jam. Karat yang melukai kulit dan menunjukkan bahwa darah berwarna merah. Aku terlunta tersadar bahwa angin tidak akan pernah datang kembali. Aku terlunta dalam dunianya. Dunia dimana aku hanyalah seseorang yang hidup dalam bayangan ekstasi tentangnya.

Angin bajingan! Memori biadab! Aku harus pulang sendiri. Kembali pada bumi dan kenyataan bahwa aku sudah dicampaknya. Dihempas jauh-jauh ke langit. Jauh di atas sana hingga yang dapat ku lakukan hanya menatapnya dari kejauhan tanpa pernah bisa menyentuhnya.

Biadab! Sungguh biadab! Mampuslah kau, angin!

15 Februari 2011. Aku telah pulang ke bumi. Duduk manis di teras belakang rumahku memeluk boneka biru darinya. Kulihat langit berwarna biru pucat. Usianya tidak lagi dapat mencerahkan hati seseorang. Angin berlalu kecil. Namun apalah ia. Angin hanyalah angin dan memori hanyalah memori.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s