Sheila Narita Punya Cerita

Sebuah Cerita tentang Kasih Sayang*

Posted on: January 25, 2008

            Pada suatu ketika ada suatu pulau yang dihuni semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia. Sebelum kita mengkotak – kotakkannya ke dalam istilah baik atau buruk. Sifat – sifat ini berdiri sendiri sebagai manusia dengan masing – masing ciri khasnya. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Kasih Sayang dan sifat – sifat manusia lainnya.

Suatu hari ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan – pelan. Sifat – sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap – siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.

Kasih sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun – tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatan pada saat – saat terakhir karena sibuk membantu teman yang lain bersiap – siap. Akhirnya Kasih Sayang memutuskan ia perlu bantuan.

Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.

Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Kasih Sayang.

Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antic dan koleksi seni. Tak ada ruang untukmu di sini.”

Lalu Kasih Sayang minta tolong kepada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah. “Kesombongan, sudikah engkau menolongku?”

Maaf,” jawab Kesombongan. “Aku tak bisa menolongmu. Kamu basah kuyup dan kotor. Nanti dek perahuku yang mengkilat ini kotor jika kau naik.”

Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini mesti menimpanya? Meski pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan yang menyenangkan, Kasih Sayang sudah sangat terdesak.

Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”

Oh, Kasih Sayang, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana kalau nanti ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Tidak, aku tidak tega mengajakmu.”

Salah satu perahu yang paling akhir meninggalkan pulau adalah Optimisme. Itu karena dia tak percaya tentang bencana dan hal – hal buruk, termasuk bahwa pulau ini akan tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Kasih Sayang memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan.

Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara. “Ayo, naiklah ke perahuku!” Kasih Sayang merasa begitu lelah sehingga dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nahkoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterimakasih, meloncat turun dan melambaikan tangan kepada nahkoda baik itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya…

Ketika di pantai, ia bertemu Pengetahuan dan bertanya, “Siapa tadi yang menolongku?”

Itu tadi Waktu,” jawab Pengetahuan.

Waktu?” tanya Kasih Sayang. “Kenapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?”

Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang.”

*Diambil dari ‘101 Kisah yang memberdayakan: Penggunaan Metafora sebagai Media Penyembuhan’ karya George W.Burns

Jadi, inti dari kenapa cerita ini gw posting di blog ini, sediakanlah cukup waktu untuk menunggu dan membiarkan kehebatan kasih sayang bekerja. Yea, menunggulah. That’s what I always say to myself. Kasian banget sih sebenernya kalo kasih sayang sampe harus menunggu. Padahal kan kalo mengutip kata tokoh jomblo (gw lupa namanya) yang diperanin sama Christian Sugiono di salah satu episode Jomblo Series, “Cinta bisa datang. Cinta bisa pergi. Cinta bisa memilih. Tapi ada satu yang cinta nggak bisa lakuin. Cinta nggak bisa nunggu.” Well, gw nggak terlalu setuju sama quote itu. Justru dengan menunggu, itu yang namanya pesimisme, kesombongan, kemakmuran, dan bahkan optimisme yang terlalu berlebihan, bisa diredam perlahan – lahan seiring berjalannya waktu. Manusia kan semakin waktu berjalan, semakin mateng pemikirannya. Bener nggak? Mungkin yang dulunya dia merasa terlalu makmur dan mampu hanya hidup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan teman atau sahabat, perlahan hatinya mulai tersentuh oleh kasih sayang dan ia pun tersadar bahwa ia membutuhkan seseorang lain selain dirinya untuk hidup. Mungkin yang dulunya dia terlalu pesimis dan nggak yakin untuk menyatakan “Aku sayang kamu. Aku butuh kamu.” ke seseorang special yang disukainya , perlahan – lahan dia bisa ngilangin rasa takut itu. Mungkin yang dulunya dia terlalu optimis dalam menjalani hubungan dan yakin bahwa hubungan yang dijalaninya tidak ada masalah sama sekali, sekarang dia berani untuk introspeksi melihat ke belakang dan kemudian bertanya, “Kita berdua kenapa sih? Kamu masih marah ya sama aku? Maaf yah, aku tau aku salah.” Mungkin yang dulunya dia terlalu sombong untuk bilang “Aku pengen kita balikan lagi.” karena harga dirinya yang tinggi, sekarang hatinya telah luluh dan dia lebih memilih untuk memohon supaya rasa sayang di antara mereka tetap ada.

Semua orang pasti punya penyesalan, nggak kecuali gw. Mungkin emang ada waktunya nanti dimana gw bisa buktiin ke seseorang itu kalo gw udah berubah jadi lebih baik, kalo gw udah berhasil menyelamatkan diri dari pulau yang tenggelam itu. Ya, nggak ada yang tau kapan. So I just have to wait for it dan terus ngejaga rasa sayang ini tetap ada, nggak kalah sama kemakmuran, pesimisme, optimisme, dan kesombongan itu. Keep fighting!

In Memory of Our My Friday, 13th of August 2004…

About these ads

7 Responses to "Sebuah Cerita tentang Kasih Sayang*"

keren banget ceritanya … aku suka banget …
banyak nilai2 kehidupan yang bisa kita pelajari dari situ … terutama tentang waktu dan kasih sayang … menunggu memang hal yang paling membosankan, tapi pada saat kita nyampe di suatu titik yang kita inginkan, maka kepuasan dan kenikmatan dari menunggu akan sangat terasa.

*Tami:
betul sekali..
makin banyak menunggu sembari menjalani waktu ke waktu bisa ngebikin kita sadar akan suatu nilai yang istimewa..
hahaha..

betul.betil.betul.. . . . .
crita’na bguzd beud pna makna trsndri . . .
gudz bleezt u all

betul.betul.betul.. . . . .
crita’na bguzd beud pna makna trsndri . . .
gudz bleezt u all

thanks for the tag :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

January 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Archives

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: