Tips Menulis oleh Dewi ‘Dee’ Lestari

1. To cut off excess emotion (and spare our readers’ eyes from suffering): Kurangi tanda seru, tanda baca berlebihan, titik-titik yang terlalu panjang, huruf yang dilipatgandakan untuk kesan dramatis (e.g., “aaaaaargh!”, “Iyaaaaaaaa… iyaaaaaa…”). Trust me, THREE is enough. We get it! Thank you! Tanda baca, I tell ya, is a very powerful tool. Use it wisely, otherwise we’ll weaken its meaning, thus kill our own writing.

2. You’re about to write a novel, NOT A 50 PAGES of SMS! Inserting an sms text can be cute, especially when there’s a special purpose behind it. If that’s the case, by all means, go for it. But too much of it will be… well, too much. Keep that sms style in your own cellphone. Don’t torture your readers any further, they had enough already from their daily cellular interactions.

3. We’re writers, but don’t write’em all down. Trust our readers’ ability to imagine things. And give them some inspiring and convincing description, bukan sekadar deskripsi harfiah akibat malas mikir. A person laughs, okay, but we don’t need to read the “hahahaha”. A person’s heartbeat is racing, okay, but we don’t need to read the “dag-dig-dug”. A person walks through a dark alley, fine, but we don’t need to read the “sret-sret-sret”. A phone rings, please, save the “KRING! KRING! KRING!” for a toddler’s storybook.

4. Keep the dialogue efficient. Sometimes we try to so hard to create a lively situation, we forget that universe favors efficiency. We don’t have to write each, small responses like: “Ha?”, or “APA?!”, or “Huh!”. Do it when it’s really, really essential, and when we don’t have any better way to describe the character’s state of being. All good movies or tv series are efficient with wordings, for every minute counts. Every minute has to be captivating. Blah movies are not, that’s why we usually want to go out of the theatre within the first 15 minutes, or change the channel after ten seconds. Unless it’s really necessary and it serves a certain purpose, cut all excessive responses.

5. I cannot begin to tell you, and to remind myself, how important editing is. No, bukan cuma editorial bahasa. Tapi ritme dan penataan tempo adegan demi adegan—khususnya jika kita mengerjakan cerita bersambung, or a great romance/novel. Membaca novel, apalagi yang ekstra tebal, adalah perjuangan. Bagi saya, ini adalah salah satu aspek terberat yang harus saya kerjakan. Bagaimana mengatur adegan demi adegan dalam sebuah bab hingga selalu menyisakan umpan yang membuat pembaca untuk terus melanjutkan. And that’s what I’ve tried to learn from Candy-candy, Pop Corn, Ke Gunung Lagi… yakni bagaimana umpan-umpan yang kita miliki dapat tersebar dengan tepat hingga perjalanan novel itu tidak membosankan, dan selalu ada sesuatu yang dituju. In short, we have to create an addiction. I think this also differs good movies from crappy movies. The first builds a magnetic ride that sticks our butt to the theatre’s chair, the latter builds an imaginary farm with all white and fluffy sheep for us to count to slumberland.

6. Do you like sad ending? I don’t. I know some people who are just so into sad, tragic, black endings, which is completely okay, really. Not every story in real life ends up with a happy ending. Sad, tragic, black endings are real. But I just hate it when I’ve spent so much time and energy to finish up a book, a thick one, and finally stumbled with a sad, helpless feeling at the end. It just SUCKS! I’d like to feel empowered, inspired, and satisfied at the end of my struggle. A happy ending doesn’t have to be like the typical Hollywood where they just… have to… kiss. Argh. Happy endings can be made classy and subtle. All in all, I just don’t have the heart to devastate my readers with a sad ending, especially after I’ve dragged them to finish hundreds of pages. You better not too. Well, it’s your choice at the end of the day, but please warn me before I spend my good money on your suck ending.

7. This may be my exclusive, subjective experience, but I personally found that these things are counterproductive, distractive, and dangerous for our writing, for they may interrupt our working session, suck dry our energy, and taking up so much of our precious time. People, if you’re into serious writing where every hour counts, stay away from these poisons: FRIENDSTER, FACEBOOK, MY SPACE, MAILING LIST.

8. Seperti halnya anggur, tape, tempe, peuyeum, saya pun percaya bahwa tulisan adalah ‘makanan’ yang harus melalui proses fermentasi yang pas dan memadai untuk bisa matang. Terkadang proses fermentasi ini menjadi barang mewah saat kita dikejar deadline yang mepet. But trust me, this phase is very important. May it be a day or a week, give our writing a time to ripen. Close your manuscript and leave it untouched. Then, after a while, read it again and watch for yourself how the magic starts to happen. Yes. Your writing will reveal its true face. Most of the time, it gets uglier. But this is the true reality, and we need to face it. Justru pada saat tulisan kita menunjukkan wajah aslinya, kita punya kesempatan untuk memperbaiki apa-apa saja yang sekiranya kurang. Based on my experience, this fermentation process should be at least 5 days. Two weeks will be perfect.

9. Careful, though, the fixing process may seem endless. Each time we ferment our writing, we’ll always find some new things to fix. Jadi, biasanya saya hanya membatasi sampai tiga kali. Selepas tiga kali… just let it go. Ikhlaskan. Ini pun ujian yang cukup berat untuk para penulis, yakni: menarik garis usai. Sampai hari ini pun terkadang saya masih gatal ingin memperbaiki manuskrip Supernova, atau Filosofi Kopi. But I know, once they’ve ripened, we need to honor our writing as it is. Berhenti di satu titik usai, dan menerima karya kita apa adanya. Our flaws and imperfections may still be there, but embracing them means we embrace ourselves, including our mistakes and weaknesses. I tell ya one secret: no work is perfect. Makna kesempurnaan bagi saya bukan lagi karya tanpa cacat, melainkan penerimaan yang menyeluruh dan apa adanya.

“We Should All Wear Polka Dots”

Jadi begini ceritanya. Tanpa ada angin apa-apa di tanggal 11 Februari kemarin tiba-tiba punggung bagian kiri saya gatal tidak karuan. Bagi anda yang pernah menonton Black Swan dengan Natalie Portman sebagai Nina Sayers, tentu masih ingat adegan ketika ia bercermin membelakangi kaca untuk melihat punggungnya. Ya kira-kira itu yang saya lakukan di tanggal 11 kemarin di cermin besar di kamar mama. Bercermin dengan pose Black Swan. Dalam pikiran saya, pose bercermin seperti ini sexy juga. Kepala menengok dengan perlahan seolah mengintip dari balik bukit bernama bahu kiri. Tapi sayang, apa yang saya lihat bukan punggung mulus Nina Sayers. Bukan. Bukan juga sayap angsa hitam yang dapat membuat tarian saya tampak dramatis saat klimaks iringan lagu klasik Bach seperti Nina. Saya melihat totol-totol merah tidak karuan! Sejak kapan punggung saya punya motif polkadot merah seperti ini. Belum habis rasa terkejut saya menemukan motif itu, rasa gatal kemudian menjalar dengan liarnya seolah tiada hari esok. Di punggung. Di bahu. Di kulit tubuh saya. Saya ingin teriak. Cukup dalam hati.

Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!

Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar “Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus”. Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, “Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw”. Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.

Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik “We should all wear polka dots” dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.

Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.

Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Afrojack.

Sebuah Cerita tentang Kasih Sayang

Pada suatu ketika ada suatu pulau yang dihuni semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia. Sebelum kita mengkotak – kotakkannya ke dalam istilah baik atau buruk. Sifat – sifat ini berdiri sendiri sebagai manusia dengan masing – masing ciri khasnya. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Kasih Sayang dan sifat – sifat manusia lainnya.

Suatu hari ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan – pelan. Sifat – sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap – siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.

Kasih sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun – tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatan pada saat – saat terakhir karena sibuk membantu teman yang lain bersiap – siap. Akhirnya Kasih Sayang memutuskan ia perlu bantuan.

Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.

“Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Kasih Sayang.

“Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antic dan koleksi seni. Tak ada ruang untukmu di sini.”

Lalu Kasih Sayang minta tolong kepada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah. “Kesombongan, sudikah engkau menolongku?”

“Maaf,” jawab Kesombongan. “Aku tak bisa menolongmu. Kamu basah kuyup dan kotor. Nanti dek perahuku yang mengkilat ini kotor jika kau naik.”

Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini mesti menimpanya? Meski pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan yang menyenangkan, Kasih Sayang sudah sangat terdesak.

“Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”

“Oh, Kasih Sayang, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana kalau nanti ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Tidak, aku tidak tega mengajakmu.”

Salah satu perahu yang paling akhir meninggalkan pulau adalah Optimisme. Itu karena dia tak percaya tentang bencana dan hal – hal buruk, termasuk bahwa pulau ini akan tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Kasih Sayang memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan.

Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara. “Ayo, naiklah ke perahuku!” Kasih Sayang merasa begitu lelah sehingga dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nahkoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterimakasih, meloncat turun dan melambaikan tangan kepada nahkoda baik itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya…

Ketika di pantai, ia bertemu Pengetahuan dan bertanya, “Siapa tadi yang menolongku?”

“Itu tadi Waktu,” jawab Pengetahuan.

“Waktu?” tanya Kasih Sayang. “Kenapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?”

Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang.”

*Diambil dari ‘101 Kisah yang memberdayakan: Penggunaan Metafora sebagai Media Penyembuhan’ karya George W.Burns

Jadi, inti dari kenapa cerita ini gw posting di blog ini, sediakanlah cukup waktu untuk menunggu dan membiarkan kehebatan kasih sayang bekerja. Yea, menunggulah. That’s what I always say to myself. Kasian banget sih sebenernya kalo kasih sayang sampe harus menunggu. Padahal kan kalo mengutip kata tokoh jomblo (gw lupa namanya) yang diperanin sama Christian Sugiono di salah satu episode Jomblo Series,
“Cinta bisa datang. Cinta bisa pergi. Cinta bisa memilih. Tapi ada satu yang cinta nggak bisa lakuin. Cinta nggak bisa nunggu.”
Well, gw nggak terlalu setuju sama quote itu. Justru dengan menunggu, itu yang namanya pesimisme, kesombongan, kemakmuran, dan bahkan optimisme yang terlalu berlebihan, bisa diredam perlahan – lahan seiring berjalannya waktu.

Manusia kan semakin waktu berjalan, semakin mateng pemikirannya. Benar tidak? Mungkin yang dulunya dia merasa terlalu makmur dan mampu hanya hidup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan teman atau sahabat, perlahan hatinya mulai tersentuh oleh kasih sayang dan ia pun tersadar bahwa ia membutuhkan seseorang lain selain dirinya untuk hidup. Mungkin yang dulunya dia terlalu pesimis dan nggak yakin untuk menyatakan “Aku sayang kamu. Aku butuh kamu.” ke seseorang special yang disukainya , perlahan – lahan dia bisa ngilangin rasa takut itu. Mungkin yang dulunya dia terlalu optimis dalam menjalani hubungan dan yakin bahwa hubungan yang dijalaninya tidak ada masalah sama sekali, sekarang dia berani untuk introspeksi melihat ke belakang dan kemudian bertanya, “Kita berdua kenapa sih? Kamu masih marah ya sama aku? Maaf yah, aku tau aku salah.” Mungkin yang dulunya dia terlalu sombong untuk bilang “Aku pengen kita balikan lagi.” karena harga dirinya yang tinggi, sekarang hatinya telah luluh dan dia lebih memilih untuk memohon supaya rasa sayang di antara mereka tetap ada.

Semua orang pasti punya penyesalan, nggak kecuali gw. Mungkin emang ada waktunya nanti dimana gw bisa buktiin ke seseorang itu kalo gw udah berubah jadi lebih baik, kalo gw udah berhasil menyelamatkan diri dari pulau yang tenggelam itu. Ya, nggak ada yang tau kapan. So I just have to wait for it dan terus ngejaga rasa sayang ini tetap ada, nggak kalah sama kemakmuran, pesimisme, optimisme, dan kesombongan itu. KEEP FIGHTING!!

In Memory of Our My Friday, 13th of August 2004…

Pecandu Sakit Hati

akhir-akhir ini sepertinya gw baru saja menyadari kalau sebenarnya gw amat sangat menikmati kesakitan di hati gw..
setiap kali gw pengen nangis atau lagi kesel berjuta2 kesel, pikiran gw berkecamuk dengan kata-kata dan kalimat-kalimat cacian..
dan terkadang pelarian gw terhadap kata-kata yang berkecamuk itu gw convert menjadi suatu drama ataupun dialog ataupun cerita yang juntrung2annya nggak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan gw..
pelarian dengan cara menimpa kesedihan dengan khayalan tokoh imajinasi dalam otak..
makanya seringkali status2 gw entah datang darimana seperti bicara dengan sesuatu yang nggak kontekstual dalam kehidupan gw..
kalau lagi seneng, gw bahkan malah nggak memiliki satupun kata dalam pikiran gw..
oh iya, ni bukti juga nih, kalau gw lebih nyaman dan terforsir ketika ngerjain sesuatu deket tanggal deadline..
see, kesakitan dalam hati itu ada gunanya juga buat gw..
asal jangan sampe gw jadi pecandu sakit hati aja hahaha..

Kacang Lupa Kulit Part 1

terkadang sering gw berpikir untuk menjadi sebuah kacang yang lupa dengan kulitnya..
pergi jauh, meninggalkan semua hal yang ada sebelumnya di kehidupan gw..
kehidupan yang bener-bener baru, kira-kira seperti itu..
bila memang ada reinkarnasi, ya, mungkin gw akan memilih untuk bereinkarnasi..
merestart semuanya dari awal, dengan penuh harapan baru bahwa semuanya akan menjadi lebih baik..
ada yang bilang kalo gw temasuk orang yang perfeksionis dan penuh ambisi..
mungkin ya, itu sebabnya gw ingin merestart semuanya dari awal..
atau mungkin gw emang cuma sekedar ingin menghindari kesalahan dan penyesalan yang ada di hidup gw selama ini..
bukan berarti gw nggak mensyukuri kehidupan gw sekarang tapi tentu ada saat dimana gw belajar mentolerir semua kekurangan gw dan orang-orang di sekitar gw..
kekurangan yang fundamental..
kekurangan yang berada pada lingkar inti satu kehidupan sehari – hari gw..
oke, mungkin memang udah jalannya seperti ini..
bukankah ada yang bilang bahwa semua akan indah pada waktunya?
ah ya, entahlah, tapi memang terkadang sering gw ingin menjadi si kacang nggak tahu diri itu..