Salah Satu dari yang Keberapa Kalinya..
January 25, 2008 at 3:46 am | In Kenangan | No Comments“Satu – satunya kesalahanku adalah mencintaimu”
Dalemnya kata – kata Emka yang satu iniiiiiiiiiiiiii…
Jadi sediiiiiiiiiiiiihhhh…
Sedih lagiiiiiiiii…
Hiks…hiks…hiks…
Ya udah deh, kalo gitu,
Tuhan, tolong maafin kesalahan saya…
Sugesti Romy Rafael VS Sugesti Mbok Jamu dan Gadis Comel
January 25, 2008 at 3:44 am | In Sekedar Bercerita | 2 CommentsHohoho, siapa yang sangka gitu kalo ternyata gw diberi kesempatan untuk merasakan sugesti dari Pak Romy Rafael. Seminggu yang lalu gw ikutan nonton acara Dorce Show bersama anak – anak arsitektur lainnya. Jadi berbondong – bondong dengan dress code putih, beratasnamakan dari UI, gw ikutan merelakan waktu libur gw tiduran di rumah untuk mencari dana buat acara PSB Arsitektur 2008. Lumayanlah, ikutan dua episode dorce show dibayar sekitar 25 – 30 ribu per kepala. Tanpa tahu menahu akan siapa bintang tamu yang muncul, di episode yang pertama kita jabanin, ada pak Timbul dengan topik “Macam – macam pijit yang ada di Jakarta”. Cukup seru, gw sempet bernada suara “Iiiih, ko gitu sy?” atau “Iiiih, males banget deh” ke Mirra, temen gw, ketika ada narasumber bertopeng yang katanya penikmat pijit plus2 yang doyannya nyari pemijit yang sejenis kelamin sama dia. Ada juga narasumber yang ngebahas pijit totok aura. Atau ada juga yang ngebahas pijit sehat pake batu alam dari Singapur yang dipanaskan terlebih dahulu. Sampe ngebahas tentang pijit tuna netra yang bener2 cuma mengandalkan indera peraba mereka. Ngedengerin topik tentang pijit2 ini, malah ngebikin gw jadi kepengen dipijit, berhubung posisi duduk penonton yang agak kaku nggak bebas bergerak ngebikin gw berasa pegel. Gw pengen nyobanya pijit yang pake batu panas itu. Kayanya enak banget, anget2 kena kulit.
Nah, di episode kedua yang kita jabanin ini yang ternyata lebih seru. Tentang Hypnotherapy. Ho, seselesainya episode pertama, Dorce keluar untuk berganti pakaian dan make’up. Tiba – tiba Pak Romy Rafael masuk ke dalem studio. Hiya, genteng ganteng. Sekali lagi, ganteng saudara – saudara. Kenapa ya kalo artis tu bagusan keliatan aslinya? Anyway, abis terpana dengan penampilan Romy, tiba – tiba ada suara bisik – bisik centil dari dua makhluk di sebelah kiri gw.
“Gawat ni gawat, kita’ mau diapain nih bu?”
“Iya ni mpok, gw mah ogah disuru aneh2 ama Romy Rapael..”
“Hiiiii, mana nanti kita’ kan masuk tivi. Malu ah kalo dihipnotis yang enggak2. Bikin malu ajah.”
“Dir, gw tau, pokonya kita’ nggak boleh dengerin kata2nya dia. Jangan sampe kita’ keipnotis sama tu orang”
“Bener ya Mir ya, nanti kita ketawa2 berdua aja pas dia lagi ngipnotis kita’. Jangan didengerin.”
Heyyaah, dua makhluk itu adalah Mirra Mbok Jamu dan Dira Gadis Comel. Sekawan permainan ama gw. Kalo di kampus, hampir tiap hari gw maennya ama mereka. Nggak heran bahasa pemilihan kata dan logat ngomong gw jadi tambah parah sejak berkawan dengan mereka, terutama sejak sama si Mbok Jamu itu. Romy Rafael langsung mau melakukan tes sugesti ke penonton sebelum acara dimulai. Tujuannya buat nyari penonton yang emang bener2 serius mau dengerin omongan dia (tentunya bukan gw, bukan mirra, dan bukan dira). Tes sugesti pertama, penonton disuruh tutup mata, mengangkat kedua lengan lurus sejajar bahu ke depan terus dengerin kata2 dia. “Yak, bayangkan secara nyata bla bla bla di tangan kanan anda ada buku yang sangat berat. Berat, berat, berat, tangan anda sampai tak kuat menahannya. Kemudian bayangkan secara nyata bla bla bla di tangan kiri anda memegang banyak balon yang membuat tangan anda merasa ringan. Tangan anda perlahan – lahan mulai ikut diterbangkan balon – balon tersebut. Bla bla bla bla. Sekarang, buka mata anda.” Dan hasilnya, tangan kanan gw mengarah ke bawah dan tangan kiri gw mengarah ke atas. Posisi tangan yang tidak wajar. Yak, tes sugesti massal pertama berhasil buat gw. Dua makhluk itu? Tentu tidak berhasil, karena ketika pak Romy Rafael berusaha mensugesti pikiran para penonton, mereka berdua malah komat kamit ketawa ketiwi tidak jelas. Alhasil, posisi tangan si Mbok Jamu dan Gadis Comel tidak berubah sama sekali. Mereka tidak serius saudara - saudara. Dalam hati, gw tertawa. Hahaha.
Ho, gw berhasil melanjutkan ke tes sugesti kedua. Penonton disuru tutup mata lagi, kedua tangan diangkat lurus ke atas dan dikatupkan genggamannya sekuat mungkin. “Kali ini saya akan membuat tangan anda menempel tidak dapat dilepas. Hanya dapat dilepas sampai saya sentuh kembali. Dalam hitungan ke 5 genggaman anda 1000 kali lebih kuat. Lebih keras. Lebih kuat. Bla bla bla bla”. Merasa bangga dengan keberhasilannya menangkis sugesti dahsyat pak Romy Rafael yang mengenai hampir semua penonton, kedua makhluk itu mulai menggoda gw dengan sugesti bisik – bisik ala mereka.
“Dir, dir, si Sheila kena tuh. Hihihi”
“Iya, iiiih. Bisa kena segala. Hahahaha”
“Hihihihi. Aneh ya. Bisa ampe kena”
“Iya, hahaha. Masa bisa kena sih”
“Dir, si Sheila mukanya serius banget. Tuh, liat deh”
“iiiih, iya. Serius banget. Pantesan kena ya mir?”
“Hihihihihihi”
“Hahahaha”
“Dir, dir, keteknya Sheila basah Dir!”
“Mana,mana? Iiiih, iyaaa basaaaah”
“Hihihihihi”
“Huahhahahaha”
Sialan! Dua makhluk itu berhasil menjerat pikiran gw dengan bisikan – bisikan nista di deket kuping gw. Tawa – tawa licik mereka berhasil merasuki pikiran gw dan mengganggu alam bawah sadar gw yang sedang berusaha mengeraskan genggaman kedua tangan gw. Konsentrasi gw buyar. Buyar. Buyar karena gw sempat tertawa menyemburkan cipratan saliva yang gw pikir – pikir semestinya memang tidak perlu disembur – semburkan. Apalagi disemburkan di studio rekaman Trans TV. Ahk, terima kasih, ini berkat dua makhluk itu, gw jadi mengerti kalo saliva tidak perlu disembur- semburkan ketika kita sedang tertawa dengan posisi bibir terkunci rapat.
“Okeh, sekarang buka mata anda. Lepaskan genggaman tangan anda. Yang tidak bisa lepas, ke depan, baru nanti akan saya lepas”
Dan, ajaib, tidak seperti yang gw kira, genggaman tangan gw lepas. Lepas dengan terlalu mudahnya saudara – saudara. Terlalu ringan. Berbeda dengan 3 teman gw yang lain, yang dengan serius mendengarkan sugesti Pak Romy. Tangan mereka terkunci dalam gengamannya sendiri. Bener2 keras nggak bisa dibuka. Parah. Ada sekitar 10 penonton yang maju karena tangannya mengeras. Hm, sedangkan tangan gw, dengan ringannya gw pake buat nabokin kedua makhluk itu (bercanda deng..)
Dari peristiwa tersebut, ternyata gw bisa mengambil satu kesimpulan yang dalem banget (well, at least, menurut gw sendiri). Bahwa pendapat dari sahabat ataupun orang terdekat kita ternyata lebih mempunyai efek samping yang lebih besar terhadap pikiran kita. Sugesti dahsyat dari Romy Rafael yang masuk ke pikiran gw aja bisa kalah ketika ocehan kecil dari dua makhluk yang mana adalah sahabat baik gw itu terdengar di telinga gw. Itulah teman. Itulah Sahabat. Itulah orang terdekat kita. Every little thing they say, every little thing they do, punya arti yang bermakna dan berharga buat diri kita. Trully, it’s even more than I’m thinking of..
“cihuuuy ahuuuy… (^o^)
kita masuk tivi juga akhirnyah…”
~mirra ndira sheila
Sebuah Cerita tentang Kasih Sayang*
January 25, 2008 at 3:42 am | In Sekedar Bercerita | No CommentsPada suatu ketika ada suatu pulau yang dihuni semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia. Sebelum kita mengkotak – kotakkannya ke dalam istilah baik atau buruk. Sifat – sifat ini berdiri sendiri sebagai manusia dengan masing – masing ciri khasnya. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Kasih Sayang dan sifat – sifat manusia lainnya.
Suatu hari ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan – pelan. Sifat – sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap – siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.
Kasih sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun – tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatan pada saat – saat terakhir karena sibuk membantu teman yang lain bersiap – siap. Akhirnya Kasih Sayang memutuskan ia perlu bantuan.
Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.
“Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Kasih Sayang.
“Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antic dan koleksi seni. Tak ada ruang untukmu di sini.”
Lalu Kasih Sayang minta tolong kepada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah. “Kesombongan, sudikah engkau menolongku?”
“Maaf,” jawab Kesombongan. “Aku tak bisa menolongmu. Kamu basah kuyup dan kotor. Nanti dek perahuku yang mengkilat ini kotor jika kau naik.”
Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini mesti menimpanya? Meski pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan yang menyenangkan, Kasih Sayang sudah sangat terdesak.
“Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”
“Oh, Kasih Sayang, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana kalau nanti ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Tidak, aku tidak tega mengajakmu.”
Salah satu perahu yang paling akhir meninggalkan pulau adalah Optimisme. Itu karena dia tak percaya tentang bencana dan hal – hal buruk, termasuk bahwa pulau ini akan tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Kasih Sayang memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan.
Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara. “Ayo, naiklah ke perahuku!” Kasih Sayang merasa begitu lelah sehingga dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nahkoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterimakasih, meloncat turun dan melambaikan tangan kepada nahkoda baik itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya…
Ketika di pantai, ia bertemu Pengetahuan dan bertanya, “Siapa tadi yang menolongku?”
“Itu tadi Waktu,” jawab Pengetahuan.
“Waktu?” tanya Kasih Sayang. “Kenapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?”
Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang.”
*Diambil dari ‘101 Kisah yang memberdayakan: Penggunaan Metafora sebagai Media Penyembuhan’ karya George W.Burns
Jadi, inti dari kenapa cerita ini gw posting di blog ini, sediakanlah cukup waktu untuk menunggu dan membiarkan kehebatan kasih sayang bekerja. Yea, menunggulah. That’s what I always say to myself. Kasian banget sih sebenernya kalo kasih sayang sampe harus menunggu. Padahal kan kalo mengutip kata tokoh jomblo (gw lupa namanya) yang diperanin sama Christian Sugiono di salah satu episode Jomblo Series, “Cinta bisa datang. Cinta bisa pergi. Cinta bisa memilih. Tapi ada satu yang cinta nggak bisa lakuin. Cinta nggak bisa nunggu.” Well, gw nggak terlalu setuju sama quote itu. Justru dengan menunggu, itu yang namanya pesimisme, kesombongan, kemakmuran, dan bahkan optimisme yang terlalu berlebihan, bisa diredam perlahan – lahan seiring berjalannya waktu. Manusia kan semakin waktu berjalan, semakin mateng pemikirannya. Bener nggak? Mungkin yang dulunya dia merasa terlalu makmur dan mampu hanya hidup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan teman atau sahabat, perlahan hatinya mulai tersentuh oleh kasih sayang dan ia pun tersadar bahwa ia membutuhkan seseorang lain selain dirinya untuk hidup. Mungkin yang dulunya dia terlalu pesimis dan nggak yakin untuk menyatakan “Aku sayang kamu. Aku butuh kamu.” ke seseorang special yang disukainya , perlahan – lahan dia bisa ngilangin rasa takut itu. Mungkin yang dulunya dia terlalu optimis dalam menjalani hubungan dan yakin bahwa hubungan yang dijalaninya tidak ada masalah sama sekali, sekarang dia berani untuk introspeksi melihat ke belakang dan kemudian bertanya, “Kita berdua kenapa sih? Kamu masih marah ya sama aku? Maaf yah, aku tau aku salah.” Mungkin yang dulunya dia terlalu sombong untuk bilang “Aku pengen kita balikan lagi.” karena harga dirinya yang tinggi, sekarang hatinya telah luluh dan dia lebih memilih untuk memohon supaya rasa sayang di antara mereka tetap ada.
Semua orang pasti punya penyesalan, nggak kecuali gw. Mungkin emang ada waktunya nanti dimana gw bisa buktiin ke seseorang itu kalo gw udah berubah jadi lebih baik, kalo gw udah berhasil menyelamatkan diri dari pulau yang tenggelam itu. Ya, nggak ada yang tau kapan. So I just have to wait for it dan terus ngejaga rasa sayang ini tetap ada, nggak kalah sama kemakmuran, pesimisme, optimisme, dan kesombongan itu. Keep fighting!
In Memory of Our My Friday, 13th of August 2004…
Cerita “Itu”
September 9, 2007 at 7:32 am | In Dear Diary | No CommentsJadi begini ceritanya, kemarin malam itu ada acara PSB Side - B (Pelepasan Sarjana Baru Side - B) Arsitektur 2007 di Kenanga Hills. Acaranya dari jam 7 malam sampai selesai sekitar jam 3 pagi. Sempat hujan juga tuh, lamaaa banget. Naah jadii, di salah satu acaranya itu ada “nyanyi bareng semua angkatan dengan teks lagu, diiringi dengan gitar melodi’nya pak Goti (salah satu dosen Arsitektur)”. Salah satu lagu yang dinyanyiin itu adalah Love of My Life ini. Tadinya gw nggak tau tu lagu di’nyanyiinnya kayak apa, kirain gw Love of My Life’nya Keith Martin. Ternyata lagunya Queen. Jadi, setelah berhasil menemukan bagaimana cara menyanyikannya, tiba2 pas gw nyanyiin di bagian lirik yang ini,
“When I grow older, I will be there by your side,
To remind how I still love you..”
gw langsung “TENG” (dibaca seperti E pada sambel, bukan E pada cabe) teringat DIA lagi. Ah, kesal kesal. Di tengah hujan itu, gw malah nahan tangis. Padahal di sekeliling gw itu banyak anak - anak Arsitektur dari berbagai angkatan. TERDIAM, langsung nggak lagi ikutan nyanyi sejak baca lirik itu. “Ho, liriknya dalem banget”. Hiks hiks. Kesal oh kesal aku. Air mata hampir turun bersama dengan tetesan - tetesan hujan. Lirik itu jadi mengingatkan lagi perasaan gw ke DIA. Perasaan DULU, yang tapi mungkin SEKARANG MASIH. Ahhh, jadi menghela napas. Tapi karena PSB itu, gw jadi suka lagu ini.
Ngomong - ngomong PSB angkatan gw sukses lho. Hohoho. Bertemakan Gothic, semuanya (termasuk gw) mengenakan dandanan yang “hitam - hitam”. Senang sekali, walau lelah dan terkantuk - kantuk. Tapi hasilnya memuaskan.
Love of my life, you hurt me..
You broken my heart, and now you leave me..
Love of my life can’t you see..
Bring it back bring it back,
Don’t take it away from me,
Because you don’t know what it means to me.
Love of my life don’t leave me..
You’ve stolen my love now desert me..
Love of my life can’t you see..
Bring it back bring it back,
Don’t take it away from me,
Because you don’t know what it means to me..
You will remember when this is blown over,
And every things all by the way..
When I grow older,
I will be there by your side,
To remind how I still love you
I still love you..
Hurry back hurry back,
Don’t take it away from me,
Because you don’t know what it means to me.
Love of my life..
Love of my life..
Love Test yang Ini Benar - Benar Ampuh
August 26, 2007 at 3:44 pm | In Sekedar Bercerita | 2 CommentsDari dulu sampai saat ini, cukup banyak orang yang menyenangi ramalan. Sekarang, cobain deh Love Test yang ini. Sehabis itu, comment yah. Have a nice try!
Bakso Pak Joni di Blok S
August 13, 2007 at 6:18 pm | In Makan - makan | 4 CommentsJujur saja, saya sebagai seorang mahasiswi sangat menyukai santapan yang berjudul Bakso ini (loh, apa hubungannya sama mahasiswi?). Jadi begini ceritanya, seringkali ketika saya dan sahabat saya, Mirra, (yang mana kami berdua adalah mahasiswi) bosan dengan makanan di kantin Teknik UI, kami akan mencari abang tukang bakso. Biasanya nyarinya ke Kober atau belakang Stasiun UI. Sampai saat ini sudah ada beberapa tempat yang kami kunjungi dan cicipi hidangan bakso’nya. Dari wilayah sekitar Kampus UI Depok sampai ke daerah Margonda (Jauh amat yah J). Dari sekedar abang gerobak sampai ke rumah makan bakso. Layaknya Pak Bondan di acara Wisata Kuliner Trans TV, kami selalu mengomentari cita rasa bakso – bakso itu. Kekenyalan bakso’nya, komposisi kuahnya, sampai rasa sambal yang sebenarnya hanya sebagai pelengkap hidangan pun tetap kami komentari. Mahasiswa zaman sekarang harus kritis dong, ya nggak?
Sampai saat ini, bakso yang paling enak (menurut indera pengecap dan pembau kami) berada di belakang Stasiun UI. Namanya Bakso Rudal. Tempat makannya kecil, hanya cukup untuk sekitar 10 orang. Bentuknya bukan restoran ataupun rumah makan yang ada pintu masuknya. Gerobak yang biasanya untuk jualan keliling dijadikan gerobak yang menetap di tempat itu. Memang sih, melihat lokasi dan kondisi tempat jualnya, tempat ini kurang begitu nyaman. Sempit dan panas. Tapi Bakso Rudal yang sebenarnya adalah bakso urat ini enak sekali. Harganya juga pas dengan kantong mahasiswa (Rp. 4500 per mangkok). Ada yang pernah nyoba Bakso Kotak di Margonda (di dekat ITC Depok)? Wuih, tetap masih enakan Bakso Rudal ini. Walaupun Bakso Kotak pernah masuk ke acara Wisata Kuliner, tapi rasanya biasa – biasa saja. Yang membuatnya istimewa hanyalah bentuknya yang kotak. Sementara kekenyalan baksonya malah tidak begitu empuk untuk di kunyah. Coba Pak Bondan mau mampir ke belakang stasiun UI untuk mencicipi Bakso Rudal ini J
Tapi beda lagi ceritanya kalau Bakso Rudal ini ditandingin sama Bakso Pak Joni di Blok S. Beberapa hari yang lalu, setelah belanja dari Taman Puring, saya, ibunda, dan adik saya sempat mampir ke sana. Sekalian mengisi perut, saya teringat juga kalau acara Wisata Kuliner pernah datang ke sini. Suasana dan proses pemesanannya seperti di kantin pada umumnya. Banyak meja besar dan kursi panjang berwarna orange dari Teh Botol Sosro. Tempatnya ramai sekali saat itu. Saya memesan Bakso urat dan bakso telur. Semangkuk Rp. 10.000. Bakso telur’nya tidak begitu istimewa. Tapi begitu saya coba bakso uratnya, wah, rasanya mak nyuss banget. Haha, jadi lucu jika mengingat saya berada di tempat yang sama dengan Pak Bondan saat itu. Bakso uratnya terasa special karena isi di dalam baksonya bukan cuma sekedar urat tipis yang dipotong kecil - kecil, tapi langsung potongan – potongan urat sapi lengkap dengan gajihnya. Wah, saya suka sekali dengan gajih (no wonder, badan saya cepat gemuk J). Kuah baksonya juga pas banget di lidah. Pokoknya enak, saya akui lebih enak daripada Bakso Rudal UI.
Tapi sayangnya, saya belum sempat mengajak Mirra makan di Bakso Pak Joni itu. Yah, mana jauh pula tempatnya. Mungkin kalau saya sudah dibolehin bawa kendaraan sendiri ya. Hahaha, langsung deh saya bakal ajak Mirra dan Indira makan bakso di sana. Nggak bakal nyesel deh pokoknya. Haha, ayo kita ngebakso!
Belanja Murah di Taman Puring
August 13, 2007 at 4:39 am | In Jalan - jalan | 5 CommentsSiapa yang nggak suka jalan – jalan? Sepertinya kemungkinan besar semua orang suka jalan – jalan. Saya juga termasuk orang yang senang mengunjungi tempat – tempat “menarik”. Kata “menarik” di sini saya jeberkan sebagai tempat yang nggak biasa untuk dikunjungi orang biasa (Loh? Berarti saya nggak biasa dong?). Sebagai contohnya, ketika teman – teman saya lebih memilih jalan dan nonton di mall, saya lebih mengusulkan untuk jalan – jalan ke Kebun Binatang Ragunan saja. Atau pada situasi lainnya, pernah saya mengajak teman – teman SMA saya untuk jalan – jalan ke Glodok naik Busway, hanya untuk mencari DVD Korea murah. Bagi saya jalan – jalan ke tempat yang berbeda dan dengan sesuatu yang berbeda itu sangat menyenangkan. Tapi, bagi saya kata “menarik” ini tidak termasuk mall – mall besar di Jakarta. Ada beberapa alasan yang membuat mall tidak begitu menarik lagi untuk saya secara pribadi:
- Terlalu sering menghabiskan waktu di mall, membuat suasana mall tidak special lagi.
- Range harga produk di mall – mall besar yang tinggi, membuat mall hanya sebagai tempat cuci mata.
- Konsep mall di Jakarta yang seakan – akan sudah di’standarisasi, membuat mall dimanapun terlihat serupa.
Dari tiga alasan di atas itu, berkembang lagi alasan – alasan kecil lainnya. Contohnya,”Nggak bisa nawar ah kalo belanja di mall. Nggak seru” atau contoh lainnya “Mahal amat sih. Buat gw mah kualitas nomer 2, harga baru nomer 1″. Nah, itulah sebabnya postingan saya kali ini membahas tentang belanja murah.
Taman Puring di daerah Kebayoran Baru adalah salah satu tempat yang menawarkan barang – barang berkualitas dengan harga miring. Mau jam tangan Paul Frank terbaru atau Levi’s yang dipakai kelompok artis BBB akhir – akhir ini? Atau mau jaket dan sepatu merk Adidas atau Nike? Semuanya ada disini. Para penjual berani masang nama merk – merk yang sudah nggak asing lagi di telinga kita dan menjualnya dengan harga lebih murah dari semestinya. Sok pasti barangnya mirip banget sama yang dijual di toko resminya. Kualitasnya juga nggak begitu buruk. Saya punya jam tangan Adidas, Paul Frank, dan Levi’s dari Taman Puring. Alhamdulillah, nggak rusak walau terkena keringat seharian sekalipun. Yang Levi’s pernah basah karena hujan, tapi masih nggak apa – apa sampai sekarang. Harganya? Hoho, harus pintar – pintar nawar kalau nggak mau dimainin sama abangnya (mainin harga maksudnya J). Adidas berhasil saya tawar jadi Rp. 60.000, Paul Frank dari Rp. 70.000 jadi Rp. 50.000. Begitupun dengan Levi’s putih yang dipakai Chelsea BBB sebagai model. Lebih asyik lagi kalau sudah punya tempat langganan dan kenal sama abang penjualnya. Hehe, berhubung keluarga saya sangat menyukai barang – barang yang “ada merknya”, kami sering sekali ke Taman Puring. Apalagi saat liburan seperti ini. Terhitung sejak bulan Juli sampai hari ini, berarti sudah tiga kali saya ke Taman Puring. Adik saya biasanya membeli sepatu olahraga disana. Sementara saya dan ibunda lebih gemar dengan jam tangan dan tas tangan. Jangan salah, Roxy sampai Puma juga ada di sini loh. Jadi kita bisa tetap gaya dengan harga terjangkau. Saya juga jadi lebih senang belanja di sini. Et Vous?
Pertama untuk yang Kesekian
August 11, 2007 at 9:49 am | In Sekedar Bercerita | No CommentsYak, ini postingan pertama saya dalam suatu blog untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya saya sudah pernah membuat account blog selain di sini. Ada yang di sini, di tempat ini, dan yang ini. Tapi seringkali saya tidak puas dengan blog - blog tersebut. Entah karena tampilannya yang kurang memuaskan, saya’nya yang nggak ngerti pengaturan - pengaturannya, atau memang karena sedang malas meng’update blog
Seringnya sih alasan yang ke-2. Hehe, jadilah itu blog - blog nggak ada yang benar - benar keurus. Padahal saya cukup berminat dengan menulis. Yah, pokoknya doakan saja blog di wordpress ini benar - benar menjadi blog saya yang terakhir (dan keurus tentunya).
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.