Posted by: Sheila Narita on: March 17, 2011
Kalau dunia ini tidak abadi maka untuk apa semua dibuat berarti? Bermain-main saja. Setiap keputusan yang diambil toh katanya sudah diatur oleh yang di Atas. Jalan yang diambil hanya dirasa lewat sekelebat. Seperti pemandangan yang dilihat dari jendela kereta api atau pesawat terbang atau bis angkutan umum. Tergantung berapa uang yang kau punya. Diam menatap semua berlalu. Putih kemudian perlahan hijau lalu biru langit yang perlahan redup abu-abu dan lama-lama berakhir menjadi hitam.
Hidup itu perjalanan, bukan? Nikmati saja. Begitu katanya. Kadang harus mengejar. Kadang harus rela. Merelakan semua yang ada. Yang dulu katanya baik-baik saja. Yang dulu katanya ke depan akan lebih baik. Namun pada nyatanya, aku masih hanya bisa diam duduk di sini. Menatap mereka berdua bermain sandiwara di panggung rumah tangga. Di sekelilingku? Tidak ada siapa-siapa. Bahkan seorang pun. Sendiri. Hal yang biasa. Makanya aku tak peduli mereka teriak apa. Anjing. Babi. Monyet. Biadab. Bajingan. Setan. Telingaku sudah tuli dengan semua itu. Biasanya aku menatap mereka tanpa ekspresi. “Basi!!!”, dalam hatiku. Dari dulu juga begitu.
Lain kesempatan, aku menonton mereka sembari menikmati santapan harianku. Santapan yang menambah beban. Menambah berat segala anggota tubuh. Badan, pikiran, emosi, otak, hati. Kudiamkan saja mereka berkoar-koar. Ini. Itu. Ini. itu. Ini itu. Persetan. Kadang aku tak peduli. Kadang aku pura-pura peduli. Harus bagaimana lagi? Sebagai penonton yang baik, aku harus memberi komentar atau sekedar ucapan basa-basi setiap kali salah satu dari mereka berhenti sejenak dan bertanya “Lalu harus bagaimana?”. Seolah aku ini aktris terkenal saja.
Mana aku tahu. Mana aku peduli. Kalian aktornya, bukan? Mainkan saja semuanya. Sesuka kalian. Nikmati saja. Hidup ini hanya sekali. Oh mungkin itu sebabnya semua harus dibuat berarti. Tapi aku tak peduli. Aku tak peduli lagi. Semua terasa begitu-begitu saja. Berjuta kali perasaan jengah datang. Berkali-kali. Aku ingin teriak. Aku ingin pergi. Jenuh melihat dialog yang sama, intonasi tinggi yang senada, raut muka yang serupa. Berbelit-belit, melengking nyaring, dan… palsu.
“Terserah”, hanya satu kata dari mulutku yang dapat terucap. Berkali-kali. Aku sudah tak peduli. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Mereka pun kembali beradu mulut. Menyalahkan yang satu lalu menikam yang satu lainya. Meninggalkan seorang penonton setia palsu yang komat kamit sendiri dalam hati. Dalam gelap. Tak terlihat.
Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah…
Posted with WordPress for BlackBerry.
Posted by: Sheila Narita on: February 17, 2011
Saya bingung. Terlalu banyak buat blog di sana sini. Jadi bingung. Mau posting dimana. Mungkin untuk sementara ini akan posting di blogspot saja. Kalau saya tidak kembali ke sini, ya berarti saya di sana. Begitu saja. Hahaha. Salam perpisahan.
Posted by: Sheila Narita on: February 17, 2011
Selama ini saya mengira keluarga saya baik-baik saja. Namun semakin saya dewasa, saya melihat juga mendengar banyak cerita mengenai keluarga teman-teman saya yang lain. Bukannya saya tidak puas dengan kehidupan keluarga saya. Saya bahagia. Bahagia karena saya sudah ikhlas dan menerima apa adanya segala perubahan yang terjadi sejak bertahun-tahun lalu itu. Tahun 2006 tepatnya.
Semenjak tahun itu, semenjak kejadian itu, saya tidak pernah lagi mau bermanja-manja dan terlena dengan orang-orang besar yang seharusnya bisa saya jadikan tempat bersandar. Bayangkan saja, apa yang ada di kepala anda ketika saya menyebut kata “pengkhianatan”? Jejak-jejak perjalanan perubahan usia saya dari teenager menjadi young adult selalu dipenuhi dengan kata hitam itu. Dimulai dari keluarga saya sendiri lalu keluarga dari keluarga saya yang lain-lain. Awalnya saya terpukul menyadari begitu hitam dan palsunya wajah-wajah yang saya lihat selama ini. Di depan, seseorang dapat terlihat begitu putih bersih seolah tiada cacat sampai-sampai menjadi pujaan ibu mertua dan sanak saudaranya yang lain. Namun ternyata pujian-pujian yang saya dengar itu hanyalah perisai palsu yang sengaja diciptakan untuk melindungi keborokan di belakang mukanya. Kepercayaan saya runtuh seketika. Wajahnya hanya topeng. Wajah palsu yang tidak pantas dipandang. Tapi siapa saya berani mendiskreditkan seorang manusia hanya karena ia memakai topeng? Tuhan saja tidak memandang manusia secara subjektif seperti itu.
Topeng dan kata hitam itu pun terus mengiringi hidup saya, perjalanan saya mencari topeng demi kehidupan selanjutnya. Pencarian topeng apa yang akan saya kenakan dan peran apa yang harus saya jalankan berlangsung sangat panjang. Beberapa wajah palsu terngiang-ngiang dalam benak pikiran dan bersemayam lama hingga menciptakan suatu filosofi kehidupan yang saya yakini hingga sekarang. Tiada sesuatu yang sejati. Manusia. Manusia dan manusia. Manusia dan manusia dan manusia lainnya. Tidak ada yang kekal ataupun benar. Terlepas dari hubungan manusia kepada Tuhan. Mudahnya, coba lihat saja pengkhianatan yang dilakukan makna kepada kata. Interpretasi. Subjektivitas. Pemaknaan kata yang berbeda-beda oleh sekian banyak kepala, otak, dan pemikiran.
Tidak ada sesuatu yang sejati. Terlalu banyak sisi dari sisi dan sisi lain sebuah hal. Awalnya saya berusaha menemukan pijakan ataupun landasan dasar dari sistem yang berusaha saya pahami. Namun kemudian terjadi pengkhianatan lain yang bernama paradoks. Apa yang awalnya saya yakini sebagai sebuah kebenaran kemudian bertransformasi menjadi keyakinan-keyakinan lain yang kontradiktif. Lagi-lagi saya hanya bisa menggelengkan kepala dan hanya bisa tersenyum. Dengan filosofi ini, saya tidak pernah dapat dengan mudah mengambil keputusan. Selalu saja ada banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Lucunya, bahkan hingga saat keputusan telah diambil, saya tetap memikirkan hal-hal lain yang mungkin akan membawa saya ke hal yang lebih baik. Seringkali penyesalan ujungnya, ya saya mengerti.
Mungkin ini topeng yang saya temukan dalam pencarian saya selama ini. Satu topeng dengan banyak serpihan-serpihan sisi yang dipantulkan. Ketika manusia lain melihat saya, saya akan memutar wajah saya, secara vertikal, secara horizontal, berusaha memperlihatkan padanya bahwa banyak hal dalam hidup yang dapat dipandang. Banyak hal yang dapat dilihat selain satu sisi. Topeng yang berusaha untuk tidak subjektif ketika menatap kehidupan. Topeng yang objektif.
Posted by: Sheila Narita on: February 17, 2011
Jadi begini ceritanya. Tanpa ada angin apa-apa di tanggal 11 Februari kemarin tiba-tiba punggung bagian kiri saya gatal tidak karuan. Bagi anda yang pernah menonton Black Swan dengan Natalie Portman sebagai Nina Sayers, tentu masih ingat adegan ketika ia bercermin membelakangi kaca untuk melihat punggungnya. Ya kira-kira itu yang saya lakukan di tanggal 11 kemarin di cermin besar di kamar mama. Bercermin dengan pose Black Swan. Dalam pikiran saya, pose bercermin seperti ini sexy juga. Kepala menengok dengan perlahan seolah mengintip dari balik bukit bernama bahu kiri. Tapi sayang, apa yang saya lihat bukan punggung mulus Nina Sayers. Bukan. Bukan juga sayap angsa hitam yang dapat membuat tarian saya tampak dramatis saat klimaks iringan lagu klasik Bach seperti Nina. Saya melihat totol-totol merah tidak karuan! Sejak kapan punggung saya punya motif polkadot merah seperti ini. Belum habis rasa terkejut saya menemukan motif itu, rasa gatal kemudian menjalar dengan liarnya seolah tiada hari esok. Di punggung. Di bahu. Di kulit tubuh saya. Saya ingin teriak. Cukup dalam hati.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar “Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus”. Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, “Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw”. Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik “We should all wear polka dots” dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Afrojack.
Posted by: Sheila Narita on: February 15, 2011
Suatu hari aku duduk di teras belakang rumah. Ketika senja masih lama. Ketika usia langit adalah warna biru cerah dengan kapas-kapas putih bergelantungan. Sayup-sayup ku dengar bisikannya dalam kepalaku.
“Oh, hai angin”
Dibelainya pipiku dengan halus. Ku pejamkan mata hingga hampir terlelap. Perlahan ku dengar angin berbisik perlahan, ”Tunggu dan mungkin nanti kau akan tahu”
Ku turuti. Bersamanya aku mengalir kemana ia berhembus. Ku tunggu. Tunggu. Tunggu. dan Tunggu.
Satu tahun. Dua tahun. Tiga tahun.
Tak ada kata ataupun kalimat yang membuat ku kembali berpijak ke bumi. Angin terus membawaku kemana ia pergi. Tiada hentinya ia membuaiku dengan kisah-kisah lama yang membuat hidungku kembali mencium wangi rambutnya di pagi hari. Terkadang lidahku tak sadar mengecap coklat manis darinya.
“Angin, aku butuh jawaban. Haruskah aku menunggu? Terus berkelana bersamamu?”
Angin diam. Angin tidak menjawab. Angin pergi?
Hampir tidak ada lagi semilir udara di sini. Sesak dan hampa. Sulit untuk bernafas.
“Oh tidak! Angin, kumohon jangan pergi. Meski menyakitkan tapi sungguh aku ingin terus dibuai olehmu. Kamulah sumber inspirasiku. Tanpamu, aku ini hanya hampa”
Mungkin angin sedang pergi sebentar, pikirku. Baiklah. Aku akan menunggu lagi. Mungkin angin akan pulang.
Satu tahun. Dua Tahun. Tiga Tahun.
Genap sudah enam tahun aku menunggu angin datang. Menunggunya membawaku pulang ke bumi. Menunggunya kembali untuk menyadarkanku bahwa kisah-kisah itu sudah telampau lama dan berkarat. Berkarat sehingga waktu tidak lagi dapat menunjukkan tahun, bulan, hari, dan jam. Karat yang melukai kulit dan menunjukkan bahwa darah berwarna merah. Aku terlunta tersadar bahwa angin tidak akan pernah datang kembali. Aku terlunta dalam dunianya. Dunia dimana aku hanyalah seseorang yang hidup dalam bayangan ekstasi tentangnya.
Angin bajingan! Memori biadab! Aku harus pulang sendiri. Kembali pada bumi dan kenyataan bahwa aku sudah dicampaknya. Dihempas jauh-jauh ke langit. Jauh di atas sana hingga yang dapat ku lakukan hanya menatapnya dari kejauhan tanpa pernah bisa menyentuhnya.
Biadab! Sungguh biadab! Mampuslah kau, angin!
15 Februari 2011. Aku telah pulang ke bumi. Duduk manis di teras belakang rumahku memeluk boneka biru darinya. Kulihat langit berwarna biru pucat. Usianya tidak lagi dapat mencerahkan hati seseorang. Angin berlalu kecil. Namun apalah ia. Angin hanyalah angin dan memori hanyalah memori.
Posted by: Sheila Narita on: May 21, 2010
punya blog baru hehehe asyik buat display image dan lagu-lagu :D
Posted by: Sheila Narita on: November 11, 2009
Baru kali ini gw ngerasain nggak pengen jadi org yg nggak gampang marah.
Posted by: Sheila Narita on: October 23, 2009
aku rindu dengan tatapan sayunya. warnanya hitam seperti warnaku. juga seperti warna mata makhluk mars lainnya. BUZZ! hitam tapi berbeda, aku terhipnotis sejak hitamku bertaut dengan hitamnya. aku rindu menatap matanya dalam sembunyi.
aku rindu dengan lengkung jenakanya. lengkungnya tak sempurna. tak simetris kanan dan kiri. BUZZ! tapi berbeda, aku tak sadar sering melengkungkan bibir bersamanya. aku rindu tersenyum karenanya.
aku rindu dengan gelak tawanya. tawanya seperti dengusan kebahagiaan. iramanya naik turun meninggi sebelum diakhiri dengan ledekan khasnya “wah parah parah”. BUZZ! biasa, cowok, tapi berbeda, iramanya melantun sekian tahun di pikiranku. aku rindu tertawa bersamanya.
aku rindu dengan sosoknya. sosoknya yang selalu menghadapku ketika menungguku di bawah setelah bel berbunyi. sekarang sosok itu sudah berbalik memunggungiku dan berjalan meninggalkan. BUZZ! kata orang “tak apa, ikhlaskan saja” tapi berbeda, aku masih sering menangis ketika merindukannya seperti ini. aku rindu dia, dia dan semua tentang dia.
“and then it’s all just a scattered memory that left still inside me. not to be true, i refer to no one in this note” *again clearly crossing my finger*
Posted by: Sheila Narita on: October 21, 2009
1 – 365
terlahir masih terlunta. telentang terselimuti kain bedong bermotif polos.
melihat saja susah, apalagi berbicara. ah ah ah itu siapa?
wajah yang setiap saat kulihat itu. mamaku? papaku?
366 – 730
aku melihat wajah – wajah itu. wajah – wajah yang tidak ku kenal.
mereka mencubiti pipiku. mengelus – elus rambutku.
menggodaku dengan kata ‘cilukba’ dan ‘bakekok’.
huh ramai dan berisik sekali. aku kan ingin tidur.
hei hei siapa ini yang mengangkatku dari lantai dan menyelamatkanku?
731 – 1095
ah sepertinya aku benar. dua orang itu adalah mama dan papaku.
mereka membelikanku boneka susan berbaju biru.
susan berambut pirang bermata biru adalah teman pertamaku.
ayok susan kita menggambar bareng lagi.
aku yang gambar, kamu yang ngasih nilai yah.
1096 – 1460
susan sudah pergi. kami bertengkar tadi malam.
dia marah padaku karena aku punya teman baru bernama barbie.
barbie cantik yang datang dari malaysia.
susan tahu aku sangat menyukai boneka pirang.
susan menghilang. aku menangis ditemani mama.
1461 – 1825
aku marah. aku kesal dan aku sebal.
mama tidak lagi menggendong aku kemana – mana.
aku cemburu. aku iri dan aku dengki.
papa tidak lagi membelikanku boneka baru yang lucu.
siapa itu anak kecil yang mereka mandikan di bak kecil merahku?
1826 – 2190
yey yey yey lihat ayo lihat ini baju baruku yang bagus.
ini juga ni sepatu baru ada pita emasnya dari papa.
mana – mana ih punya kamu nggak bagus ah. bagusan punyaku wekk.
et et kamu nggak boleh pinjem.
2191 – 2555
pertama kalinya aku mendengar kata ‘sekolah’.
mama bilang aku harus sekolah biar pintar.
ya, aku harus pintar.
aku harus pintar supaya tahu bahwa bumi itu berputar.
2556 – 2920
salivaku menetes melihat teman – temanku menikmati es mambo.
mama tidak membolehkanku jajan es mambo berwarna merah itu.
paru – paruku kurang baik entah kenapa aku tak mengerti.
belakangan aku baru mengerti kalau itu bronchitist.
Posted by: Sheila Narita on: October 21, 2009
arsitektur itu mematikan!!
temen gw yg di teknik komputer berkata salut sama anak2 arsi..dia kan ngambil mk fotografi di arsitektur yg berjumlah 3 sks dan kelabakan di uts..baru 3 sks bow..blum mk perancangan yg 12 sks..
oh tuhan ya allah, sungguh ini hari adalah titik gw berasa CAPEK dan LELAH..gw masih sakit batuk, demam, dan pilek sampe sekarang sejak lebaran kmaren..sumpah lama bgt sakitnya..dan 3 hari terakhir ini badan gw bener2 lagi berontak..contohnya mata kanan tiba2 mengalami kejang otot dan bengkak ngeluarijn belek yg mirip lem aibon SETIAP pagi..gila banget sumpah!!
ngk mungkin bgt hidup sehat kalolo sekolah di arsitektur SUMPAH itu ngk mungkin..setiap hari lo pulang pagi dr kampus abis ngerjain tugas2 kelompok..nyampe rumah skitar jam 1 pagi, mandi, tidur 2 jam DAN langsung ngerjain tugas individu!! bgitu terus setiap harinya..DAMN kebayang ngk sihlo capeknya sekolah di arsi?kalo ada yg bilang anak arsi tu ngk ada apa2nya ITU SALAH justru disini kita yg paling jungkir balik dan setres mikirin hal2 logis macem itungan ruang, kapaasitas, parkiran, struktur, toilet blablabla dan juga hal2 imajinatif macem filosofi bentuk, studi geometri, pola eksisting, konsep perancangan dan blablabla..sumpah ya itu mikirnya dobel kerja!!
fuhhhh udah ah, sekian diary gw hari ini..cape ngetik inimata sumpah udah berat bgt..
Recent Comments